Check out my Slide Show!

Oktober 16, 2009

LINK KE BLOG BARU

Januari 2, 2009

agusriyanto09.wordpress.com


Kata Dokterku….

September 18, 2008

MAKANAN TINGGI KOLESTEROL/TRIGLISERID/ASAM URAT (Yang dihindari)

  1. Otak (sangat tinggi)
  2. Jeroan (usus, babat, ginjal, dll)
  3. Daging merah/berkaki 4
  4. Susu sapi / Susu “full cream”
  5. Keju,. Margarine / mentega
  6. Kuning telur atau saosnya
  7. Es Krim / Kue tart
  8. Coklat/kuenya/juicenya
  9. Semua jenis lemak hewani
  10. Santan / minyak kelapa
  11. Sea food (udang, kepiting, cumi-cumi)
  12. Kue yang manis dan mengandung susu/keju/mentega/coklat/lemak hewani
  13. Buah alpokat, durian, sawo (tinggi kalori/trigliserida)

Yang mengandung asam urat (reumatik) ialah mlinjo, bayam, kubis, udang, jeroan. Meskipun “manis” bukan merupakan kolesterol, namun perlu dibatasi karena berkaitan dengan metabolisme lemak. Makanan diatas menyebabkan peningkatan lemak (kolesterol) dalam darah yang merupakan faktor resiko utama Penyakit Jantung Koroner (PJK) dan pencegahannya harus dimulai sejak usia anak.

Tentunya bukan dipantang sama sekali tetapi ‘dibatasi” dan disesuaikan dengan kebutuhan energi (tenaga) yang dipakai sehari-hari. Oleh karena itu sangat dianjurkan untuk “olah raga teratur sejak usia anak” juga. Hati-hati dalam pengaturan makanan, jangan justru menyebabkan anda “salah gizi” dan menimbulkan kelainan/penyakit yang lain. Obesitas (kegemukan) merupakan faktor resiko PJK dan “ penyakit sindrom metabolik”.

MAKANAN RENDAH LEMAH JENUH/PENGGANTI MANAKAN DIATAS (Yang Dianjurkan)

  1. Daging warna putih (jenis ikan terutama tawar)
  2. Daging ayam atau sejenis yang telah disingkirkan kulit atau lemaknya
  3. Susu Skim, susu kedelai
  4. Kedelai, tahu, tempe
  5. Jenis kacang-kacangan
  6. Gandum, jagung, kentang, tales, jenis ketela/ubi, nasi
  7. Minyak nabati (jagung)
  8. Putih telur (harus masak)
  9. Buah-buahan (selain diatas) terutama apel, jeruk
  10. Semua sayuran, kecuali yang mendandung asam urat seperti diatas

Vitamin yang mengandung C, E asam folat sangat baik untuk ditambahkan dalam menumakanan. Selain mencegah PJK dengan diit, maka harus mengontrol faktor resiko PJK yang lain sesuai petunjuk dokter spesialis jantung. Merokok harus di STOP (bukan mengurangi) dan jika telah mengidap tekanan darah tinggi harus mengurangi asin (garam) dan rajin minum obat sesaui petunjuk dokter spesialis jantung. Kebiasaan minum kopi perlu dihilangkan, mengendalikan emosi dan mencegah strees sangat penting dalam kehidupan karena justru faktor tersebut sering menjadi pencetus “serangan jantung mendadak” bahkan komplikasinya yakni STROKE ( kelumpuhan syaraf otak sampai KOMA) dan meninggal mendadak. Salah satu cara mengatasi stress ialah kembali bertawakal dan berserah diri disertai rasa syukur kepada Tuhan YME, atas karunia yang telah dianugrahkan kepada kita masing-masing (MakhlukNya)

Pemeriksaan darah (laboratorium), EKG, bila perlu Tradmil Test secara berkala sesuai dengan petunjuk SpJP diharapkan dapat mendiagnosis dini/sejak awal & pencegahan primer dapat dilaksanakan dengan baik.

BEBERAPA KELUHAN / GEJALA SAKIT JANTUNG PADA UMUMNYA

  1. Lekas capai, tidak bertenaga, lemah
  2. Sesak napas waktu kerja ringan atau bahkan sedang istirahat
  3. Sesak jika berbaring datar/tanpa bantal tinggi, seperti asma
  4. Sakit/rasa berat di dada menjalar ke lengan, ulu hati
  5. Berdebar tanpa sebab, nadi tidak teratur dengan cepat atau lambat
  6. Pusing (berputar) sampai pingsan
  7. Mual sampai muntah
  8. Lekas kenyang sewaktu makan
  9. Perut dan kaki bengkak
  10. Kulit/mata kuning, jika hati telah ikut bengkak (komplikasi)
  11. Biru pada ujung jari dan seperti ujung tabuh (pada kelainan jantung bawaan)

Demikian penjelasan Dokterku tentang diit jantung, gejala/tanda, pencegahannya, agar dapat dimaklumi dan dipahami serta dilaksanakan, sehingga terhindar dari PJK + KOMPLIKASINYA, atau penyembuhan yang optimal. Ingat “5 Kendali Serangan Jantung” yakni 1. Diit 2. Olah raga aerobic yang teratur dan sesaui dosis 3. Cegah emosi dan stress 4. Minum obat teratur sesaui anjuran SpJK (jangan menunggu adanya keluhan sakit) 5. Tawakal kepada Tuhan YME.

Semoga bermanfaat


Indahnya Meminta Maaf ala si Kecil

Agustus 5, 2008

Oleh : Bu Tita


Pernah mengajari anak balita untuk meminta maaf? Setelah ‘berantem’ dengan temannya, mungkin Anda hanya mengatakan, “Ayo baikkan!”, atau “Ayo minta maaf!” Bisakah mereka melakukannya? Mereka pasti tidak mengerti maksud Anda. Saya punya sebuah pengalaman bahwa mengajari meminta maaf kepada si kecil, bisa berhasil.

Suatu hari, seperti biasa saya memandikan putri saya, Syanita (hampir 3 tahun). Dia masih senang menggunakan bak mandi plastik. Selesai mandi, saya bersihkan baknya. Syanita yang sudah memakai handuk, menunggu saya. Biasanya ia masih bermain dengan bebeknya. Tapi pagi itu saya kaget, karena ia bermain dengan sabun. Tangannya disabuni lagi. Wah, saya kesal. Langsung saya rebut sabunnya dengan kasar. Saya pukul tangannya. Saya basuh tangannya dengan air dingin. Ia kaget. Menangis keras. Saya gendong dia masuk ke kamar. Mengeringkan badannya dan mendandani seperti biasa. Ia terus meraung-raung, meronta, membuat saya tambah marah. “Nggak boleh main sabun! Jangan nangis! Diem! Cepet pake baju, dingin!” Kata-kata itulah yang keluar dari mulut saya, sementara puri saya terus menangis. Anak saya juga berteriak, “Ibu nakal! Ibu nakal!” Akhirnya saya mengalah. “Iya, ibu nakal!” Biasanya memang seperti itu. Kalau saya sudah mengaku nakal, nangisnya berhenti.

Kejadian pagi itu sudah hilang dari ingatan saya. Tapi, rupanya tidak begitu bagi putri saya. Ia masih ‘dendam’. Ketika diajak tidur siang, dia menolak. Saya paksa dia tidur, dia malah minta jalan-jalan. Tapi saya tidak marah. Disuapi makan sore, malas-malasan. Saya pun tidak marah. Akhirnya ia mau makan. Tapi seharian itu ia memang terlihat uring-uringan, membuat saya sangat cape. Seharian itu ia tidak tidur siang, sehingga saya ingin cepat membuatnya tidur agar istirahatnya cukup. Rencananya, sehabis sholat Magrib saya akan menidurkannya. Setelah selesai sholat, biasanya anak saya akan mencium tangan saya dan saya mendoakannya. Tapi saat itu, anak saya diam saja. Rupanya ia masih ‘dendam’ kepada saya. Ia bahkan tidak ikut sholat bersama. Tiba-tiba saya berinisiatif, saya raih tangan mungilnya. Saya cium tangannya dan saya berkata dengan lembut kepadanya. “Ani, maafin ibu ya…, tadi ibu bikin Ani sedih ya? Ani sedih dipukul tangannya sama ibu?” Dia mengangguk lalu memeluk saya. Hmm… saya merasa benar-benar bersalah.

Karena itu saya ulangi lagi meminta maaf kepada anak saya. “Ani maafin ibu ya!” Kali ini dia menangis. Saya gendong Syanita, membaringkannya di tempat tidur. Setelah membuka mukena, saya ikut berbaring di sebelahnya. Ani yang kecapean karena tidak tidur siang rupanya benar-benar sudah ingin tidur. Tapi hatinya baru terasa nyaman setelah ucapan maaf mengalir dari mulut saya. Saya jadi merasa sangat bersalah. Saya tepuk-tepuk pantatnya. Saya tawarin untuk bercerita. Dia mengangguk. Maka saya pun bercerita, dan ia langsung tertidur sambil memeluk saya.

Keesokan harinya entah kenapa anak saya sulit diatur. Pagi-pagi setelah mandi, ia ingin memakai baju piyama. Ia menangis memaksa saya memakaikan piyama. Setelah berkali-kali dijelaskan bahwa baju piyama untuk dipakai sore sebagai baju tidur akhirnya anak saya menyerah. Tapi ia masih marah-marah. Siang hari Syanita masih membuat saya jengkel karena mau main di luar pada jam tidur siang. Saya tidak memarahinya sama sekali. Saya turuti permintaan ‘aneh’nya hari itu-jalan-jalan di siang hari. Tapi, ia tetap tidur siang, meskipun sudah agak sore. Saya memang menggerutu karena kesal dan mengadu kepada kakeknya soal tingkah laku Syanita. Ketika Maghrib, ia menolak sholat bersama. Tetapi ia memerhatikan sholat saya. Setelah saya selesai sholat, ia lari mendekat dan mencium tangan saya. Lalu ia berkata. “Ibu, maafin Ani ya…!” Saya terperanjat. “Hah, anak sekecil ini meminta maaf dengan cara begini? Dari mana ia belajar bersikap seperti ini?”, hati saya bertanya-tanya. Ingatan saya langsung kembali pada peristiwa kemarin. Saya terpana. “Oh, jadi ia ingat kemarin saya meminta maaf dengan cara seperti ini. Dan sekarang ia meminta maaf karena telah membuat saya jengkel sejak pagi sampai sore.” Saya tidak bisa menjawab permintaan maaf anak saya. Segera saya peluk Syanita sambil saya ciumi pipinya. “Anak pinter!” Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut saya. Syanita telah belajar meminta maaf dari cara saya meminta maaf yang saya lakukan terhadapnya.***


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.